Pencegahan Infeksi dan Perlindungan Spesifik (Mardiana, SKM, MPH)

Selasa, 27 September 2022

Pencegahan primer bisa dilakukan melalui promosi dan edukasi masyarakat untuk menghindari terpaparnya infeksi virus Human Papiloma Virus (HPV). Walaupun telah tersedia vaksinasi HPV, di Indonesia belum bisa dilakukan melalui program imunisasi nasional, karena harganya masih mahal, dan hanya dilakukan pada populasi tertentu.


Pencegahan sekunder adalah pencegahan terjadinya kanker leher rahim dengan melakukan skrining untuk menemukan kelainan pada tahap prakanker. Dengan ditemukannya lesi pra kanker yang kemudian dilanjutkan dengan terapi akan dapat mencegah berkembangnya lesi pra kanker menjadi kanker. Tujuan program skrining adalah menurunkan morbiditas dan mortalitas (angka kesakitan dan kematian).



Kegiatan pencegahan tersier meliputi diagnosis, terapi definitif sampai terapi paliatif. Pencegahan tersier lebih banyak dilakukan oleh rumah sakit yang mempunyai sumber daya yang lebih lengkap seperti rumah sakit tipe A dan B




















Deteksi dini kanker leher rahim dengan metode IVA Pemeriksaan inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) adalah pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh (dokter/bidan/paramedis) mengamati serviks yang telah diberi asam asetat/asam cuka 3—5% secara inspekulo dan dilihat dengan penglihatan mata langsung (mata telanjang). Pemeriksaan IVA pertama kali diperkenalkan oleh Hinselman (1925) dengan cara memulas serviks dengan kapas yang telah dicelupkan ke dalam asam asetat 3—5%. Pemberian asam asetat itu akan mempengaruhi epitel abnormal, bahkan juga akan meningkatkan osmolaritas cairan ekstraseluler. Cairan ekstraseluler yang bersifat hipertonik ini akan menarik cairan dari intraseluler sehingga membran akan kolaps dan jarak antarsel akan semakin dekat. Sebagai akibatnya, jika permukaan epitel mendapat sinar, sinar tersebut tidak akan diteruskan ke stroma, tetapi dipantulkan keluar sehingga permukaan epitel abnormal akan berwama putih, disebut juga epitel putih. 

Daerah metaplasia yang merupakan daerah peralihan akan berwarna putih juga setelah pemulasan dengan asam asetat, tetapi dengan intensitas yang kurang dan cepat menghilang. Hal ini membedakannya dengan proses prakanker yang epitel putihnya lebih tajam dan lebih lama menghilang karena asam asetat berpenetrasi lebih dalam sehingga terjadi koagulasi protein lebih banyak. Jika makin putih dan makin jelas, makin tinggi derajat kelainan histologiknya. Demikian pula, makin tajam batasnya, makin tinggi derajat kelainan jaringannya. 

Dibutuhkan satu sampai dengan dua menit untuk dapat melihat perubahan-perubahan pada epitel. Serviks yang diberi 5% larutan asam asetat akan berespons lebih cepat daripada 3% larutan tersebut. Efek akan menghilang sekitar 50—60 detik sehingga dengan pemberian asam asetat akan didapatkan hasil gambaran serviks yang normal (merah homogen) dan bercak putih (mencurigakan displasia). Lesi yang tampak sebelum aplikasi larutan asam asetat bukan merupakan epitel putih, tetapi disebut leukoplakia, biasanya disebabkan oleh proses keratosis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pencegahan Infeksi dan Perlindungan Spesifik (Mardiana, SKM, MPH)

Kanker Leher Rahim di Indonesia (Mardiana, SKM, MPH)

Pencegahan Infeksi dan Perlindungan Spesifik (PL)