Deteksi Dini Kanker Payudara (Supatmi, S.Sit)

Pontianak, 29 September 2022



Upaya deteksi dini kanker payudara adalah upaya untuk mendeteksi dan  mengidentifikasi secara dini adanya Kanker Payudara, sehingga diharapkan dapat diterapi teknik yang dampak fisiknya kecil dan punya peluang lebih besar untuk sembuh. Upaya ini sangat penting, sebab apabila Kanker Payudara dapat dideteksi pada stadium dini dan diterapi secara tepat maka tingkat kesembuhan yang cukup tinggi (80-90%). 


Skrining pada negara maju seperti Amerika, Inggris, dan Belanda dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan ultrasonografi dan mamografi, karena sumber daya di negara-negara itu cukup memadai untuk melakukan program tersebut, sedangkan di negara berkembang seperti Indonesia, skrining secara massal dengan Ultrasonografi dan Mammografi belum memungkinkan untuk dilakukan. Oleh karena itu pemeriksaan payudara klinis oleh tenaga kesehatan terlatih yang dikuti dengan promosi dan edukasi tentang pengobatan yang baik kepada masyarakat (bahwa Kanker Payudara bila ditemukan pada stadium awal dan dilakukan operasi akan meningkatkan kemungkinan untuk sembuh dan waktu untuk bertahan hidup lebih lama) sehingga pada akhirnya akan meningkatkan pencapaian tujuan dari skrining yaitu menurunkan angka kesakitan dan kematian serta meningkatkan kualitas hidup penderita Kanker Payudara. 

Selain skrining, penemuan dini merupakan strategi lain untuk down staging. Penemuan dini dimulai dengan peningkatan kesadaran masyarakat tentang perubahan bentuk atau adanya kelainan di payudara mereka sendiri, dengan cara memasyarakatkan program SADARI bagi semua perempuan dimulai sejak usia subur, sebab 85% kelainan di payudara justru pertama kali dikenali oleh penderita bila tidak dilakukan skrining massal. SADARI sebaiknya dilakukan setiap kali selesai menstruasi (hari ke-7-10, terhitung mulai hari-pertama haid). Pemeriksaan dilakukan setiap bulan sejak umur 20 tahun (sumber: American Cancer Society).


Memeriksa payudara dilakukan sendiri dengan belajar melihat dan memeriksa perubahan payudaranya sendiri setiap bulan. Dengan melakukan pemeriksaan secara teratur akan diketahui adanya benjolan atau masalah lain sejak dini walaupun masih berukuran kecil sehingga lebih efektif untuk diobati.

Sebaiknya pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dilakukan oleh setiap perempuan tiap bulan dimulai pada usia 20 tahun atau sejak menstruasi. Pemeriksaan klinis oleh tenaga kesehatan terlatih sebaiknya dilakukan pada perempuan berusia 30-50 tahun setiap 3 tahun sekali, kecuali bagi mereka yang memiliki faktor risiko, pemeriksaan Mammografi dilakukan 2 tahun sekali pada perempuan usia 40-50 tahun dan 1 tahun sekali pada perempuan >50 tahun kecuali yang mempunyai faktor risiko. 

Pemeriksaan payudara dilakukan pada hari ke-7-10 yang di hitung sejak hari ke-1 mulai haid (saat payudara sudah tidak mengeras dan nyeri) atau bagi yang telah menopause pemeriksaan dilakukan dengan memilih tanggal yang sama setiap bulannya (misalkan setiap tanggal 1 atau tanggal lahirnya).

Pemeriksaan awal dapat dilakukan dengan memeriksa payudaranya sendiri (SADARI) dan pemeriksaan klinis dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih (SADANIS). Bila dibutuhkan, akan dilakukan foto rontgen payudara yang disebut Mammografi dan pemeriksaan Ultrasonografi (USG).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pencegahan Infeksi dan Perlindungan Spesifik (Mardiana, SKM, MPH)

Kanker Leher Rahim di Indonesia (Mardiana, SKM, MPH)

Pencegahan Infeksi dan Perlindungan Spesifik (PL)